"Cita-cita daripada IPNU ialah membentuk manusia yang berilmu, tetapi bukan manusia calon kasta elite di dalam masyarakat. Tidak. Kita menginginkan masyarakat yang berilmu. Tetapi yang dekat dengan masyarakat," dawuh KH. Tolchah Mansoer (pendiri IPNU).
Setiap organisasi mesti mempunyai harapan puncak. Meskipun harapan-harapan lain juga seringkali beriringan dengannya. Begitu juga IPNU, seperti yang dikatakan oleh KH. Tolchah Mansoer, bahwa harapan atau cita-cita IPNU adalah aktualisasi diri dalam hal intelektualitas, yang kemudian difaktualisasikan pada kehidupan sosial.
Berkenaan dengan Implementasi Daulat Pelajar, Daulat Rakyat, maka tulisan ini lebih dikerucutkan pada pengabdian IPNU di masyarakat. Telah dimaklumi bersama, bahwa IPNU merupakan salah satu organisasi kepemudaan di ranah pelajar.
Tetapi, meski bergerak di ranah pelajar bukan berarti ia lepas dari tanggungjawab sebagai anggota masyarakat. Terlebih, ia memiliki kesadaran lebih sebagai pelajar yang telah dipupuk dengan pengetahuan-pengetahuan. Maka, seyogyanya daya kritis dan analisis atas realitas sosial akan lebih baik dan terkonsep.
Konsep tanpa aksi belumlah sempurna, atau aksi tanpa konsep bukan budaya nalar pelajar. Jika yang kedua dilakukan, maka hasil yang dicapai tidak akan maksimal. Bahkan dapat menunjukkan bahwa seseorang tersebut belum memiliki kesadaran berpikir dan kesadaran bertindak, yakni kesadaran apa yang ia lakukan? Untuk apa? Kalau melakukan apa untungnya? Kalau tidak melakukan apa ruginya? Bermanfaatkah? Apa ada cara lain? Dan berbagai pertanyaan-pertanyaan lain dengan tujuan berusaha mengorek tindakan seseorang sudah sesuai dengan orientasi atau belum.
Maka yang paling utama adalah mematangkan konsep, kemudian diejawentahkan ke dalam bentuk aksi. Misalnya di suatu pemukiman terdapat seseorang memiliki penyakit ganas selama bertahun-tahun. Seorang yang memiliki kesadaran lebih tidak akan secara spontan melakukan aksi penggalangan dana. Dia lebih memilih untuk mengkritisi alasan kondisi tersebut berlarut hingga bertahun-tahun dan berusaha mengalirkan air yang macet, dalam hal ini pemerintah setempat, pihak kesehatan dan lain-lain yang berhubungan dengannya. Dia akan berusaha menyambung informasi tersebut pada pihak yang lebih bertanggungjawab, dan menuntut untuk ditangani secepatnya. Dan jika tuntuannya tidak segera, atau bahkan tidak akan terpenuhi, maka ia akan terus berusaha mencari celah agar pihak terkait turun tangan, walau dengan jalan pemberontakan. Meskipun dalam hal ini, penggalangan dana dan voiced to the goverment sama baiknya. Apalagi jika keduanya berjalan serentak. Namun, di sinilah letak perbedaan kesadaran diri seorang pelajar yang sejatinya lebih dekat dengan kecerdasan emosional mereka.
Mengabdi kepada masyarakat tidak melulu memakai pikiran pragmatis, yakni mengadakan aksi kemasyarakatan (kemanusiaan, dan lain-lain) ketika terdapat problema di depan mata. Sebagai kaum intelektual, khususnya IPNU dan IPPNU (seperti yang dicita-citakan KH. Tolchah Mansoer), harus mampu mencari permasalahan yang ada di masyarakat.
Jika ia belum mampu menganalisis permasalahan sosial, maka di sana IPNU dan IPPNU dapat mencari seseorang yang mampu menganalisisnya. Jika masalah sudah ditemukan, maka masalah tersebut menjadi tugas bagi IPNU dan IPPNU untuk menyelesaikannya. Tugas itu kita sebut saja misi. Konsep misi ini terinspirasi dari anime Naruto. Tentunya konsep ini dapat terus dikembangkan.
Secara kasat mata, mengubah sebutan program menjadi misi agaknya tidak begitu berpengaruh. Meskipun dalam penyelesaian misi tersebut juga melalui program-program. Namun perbedaannya terletak pada pola pikir dari anggota. Kalimat misi berhasil akan lebih berpengaruh daripada kalimat program terlaksana.
Jika satu misi berhasil dilakukan, bukan tidak mungkin anggota-anggota akan lebih bersemangat menyelesaikan misi-misi lainnya, dari misi tingkat rendah hingga misi tingkat tinggi. Bayangkan ketika jabatan di ujung periode, LPJ yang disampaikan bukan hanya menyoal dana dan program-program seremonial saja. Tetapi akan ada perkataan, misalnya, Pada periode ini, kami telah menyelesaikan 170 misi, yang perinciannya sebagai berikut.
Selain itu, kata misi juga dapat merangsang pikiran agar berorganisasi memiliki tujuan dan titik fokus. Hingga per hari ini, banyak tingkatan ranting, anak cabang, bahkan cabang sendiri yang kehilangan arah juang. Pergerakan lebih disibukkan dengan sebuah kegiatan seremonial, peringatan-peringatan hari nasional, atau kegiatan internal, baik berbasis kultural maupun diskusi. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka cita-cita yang dekat dengan masyarakat hanya menjadi utopis.
Menjalankan sebuah misi, yang sempat disinggung di atas, harus mematangkan konsep terlebih dahulu, yakni menentukan target, strategi, akomodasi, dan hal-hal yang dibutuhkan lainnya, yang paling penting adalah target (goal). Menjalankan misi juga tentunya harus melihat kemampuan organisasi. Adakalanya misi mampu dilakukan oleh tingkatan ranting tanpa bantuan PAC atau PC, mungkin juga sebaliknya. Maka di sini perlu adanya tingkatan misi (rendah, sedang, atau tinggi).
Misalnya, terdapat sebuah desa yang kebanyakan penduduknya buta huruf, minimnya kegiatan kultural NU di masyarakat, kenakalan remaja di salah satu desa sangat tinggi, kepengurusan MWC tidak jelas, kegiatan kultural NU tidak berjalan, pembangunan masjid tak kunjung rampung, jembatan rusak, dan problem-problem lainnya, sekecil apapun. Atau mungkin permasalahan lebih tinggi, seperti sisi gelap pemerintah daerah atau terkait ekspansi kapitalisme.
Dalam hal ini, tentunya, problem-problem yang terdapat di masyarakat sangatlah kompleks. Jika IPNU dan IPPNU sering terlibat dalam misi-misi kemasyarakatan, maka eksistensi IPNU dan IPPNU dengan citra yang baik akan muncul dengan sendirinya. Dan cita-cita yang "dekat dengan masyarakat"-nya KH. Tolchah Mansoer akan segera tergapai.

Komentar
Posting Komentar