Langsung ke konten utama

IPNU ORGANISASI EKSISTENSI



Salam pelajar rekan-rekan semuanya.
semoga kita senantiasa mendapat perlindungan dari Allah SWT atas pandemi yang terjadi sekarang ini, semoga kita selalu diberi kenikmatan dalam fase-fase rebahan pada saat ini.

Terimakasih telah berkunjung di website kami.
Tulisan ini adalah materi pada saat ngobrol santai bersama Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PAC IPNU) Kecamatan Sliyeg yang disiarkan langsung dari akun Instagram @pcipnuindramayu_ dan @pelajarnu_sliyeg pada hari Minggu 19 April 2020 pukul 20.00 WIB.

Materi yang di sampaikan oleh Rekan Busthomi dan Rekan Ahmad Mujaddid SI sebagai moderatornya mengangkat Tema "IPNU ORGANISASI EKSISTENSI"

Selamat membaca rekan-rekanita.

IPNU ORGANISASI EKSISTENSI

Seperti yang telah tercantum dalam peraturan dasar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, bahwa IPNU didirikan pada tanggal 20 jumadil akhir 1373 H. Bertepatan dengan hari rabu, tanggal 24 februari 1954 M di semarang pada konbes LP ma’arif NU, pendiri IPNU adalah M. Sufyan kholil (Mahasiswa UGM), H. Musthofa (Solo) dan Abdul ghani farida (Semarang) dan ketua umum pertama IPNU adalah M. Tholhah Mansoer.

Mengenai sejarah, asas, tujuan, landasan bertindak, sampai pada citra diri IPNU bisa rekan dan rekanita cari dari buku-buku bacaan atau website-website terkait.

Yang terpenting bahwa per hari ini IPNU telah hadir di tengah-tengah kita sebagai wadah perjuangan Pelajar Nahdlatul Ulama dan kepelajaran, sebagai mandataris kaderisasi untuk meneruskan perjuangan Nahdlatul Ulama, wadah penguatan pelajar dalam melaksanakan dan mengembangkan Islam Ala Ahlussunnah Wal Jamaah an- nahdliyah, serta wadah komunikasi pelajar untuk memperkokoh ukhuwah Nahdliyah, Islamiyah, Insaniyah, dan Wathoniyah.

IPNU sebagai organisasi mesti memiliki tujuan yang jelas. Apalagi IPNU adalah organisasi dibawah nama besar Nahdltul Ulama. Meski demikian tak terelakan lagi bahwa IPNU juga merupakan organisasi eksistensi seperti organisasi lainnya. Mengapa demikian? Setiap organisasi tujuan utamanya adalah eksistensi. Keeksistensian ini tidak sedangkal yang dibayangkan, seperti ingin keberadaannya dianggap, mengadakan kegiatan formalitas yang hanya ingin mendapat tepuk tangan, kemudian membuat orgnisasi seperti rumah kosong, tanpa ada nafas yang berembus, tanpa lalu lalang penghuni dan sepi dari tanda-tanda kehidupan. Ini jelas bahwa “eksistensi mendahului esensi”.

Lebih dari itu, eksistensialis dalam organisasi khususnya IPNU adalah sebagai perwujudan atau penampakan paham aswaja kepada masyarakat khususnya para pelajar. Kenapa Aswaja harus di kampanyekan? Karena Aswaja adalah modal utama untuk bersikap moderat dalam kondisi sosial masyarakat Indonesia yang plural ini. Jelas karena Aswaja adalah Asal wajar-wajar saja.

Eksistensi sendiri memiliki arti sebagai sesuatu yang sanggup dari keberadaannya atau sesuatu yang mampu melampaui dirinya sendiri. Simpelnya eksistensi adalah keberadaan. Dalam kenyataan hidup sehari-hari tidak ada sesuatu pun yang mempunyai ciri atau karakter eksistere selain manusia. Dan celakanya seluruh Kader IPNU adalah manusia. Maka kader IPNU harus bereksistensi. Agar ia diakui keberadaannya. Jika kader ipnu tidak eksis? Mungkin ia tidak sejenis.

Namun Seringkali kita salah menggunakan kata ada atau berada. Ketika kita memiliki keyakinan bahwa Tuhan itu ada, pada hakikatnya kita baru sampai pada tahapan pemikiran bahwa Tuhan itu ada. Akan tetapi, karena kita belum menjumpai, bertemu atau membuktikan bahwa Tuhan tersebut ada, dapat dikatakan bahwa Tuhan belum benar-benar ada. Tapi kita sebagai orang islam, wajib mengakui bahwa Tuhan itu wujud ? Buktinya ? Apakah makanan, kendaraan, pakaian yang kita kenaakan tidak ada yang membuat?

Sekarang Mari kita ganti kata Tuhan dengan IPNU. Ketika kita mengatakan bahwa IPNU itu ada, pada hakikatnya kita baru sampai pada tahapan pemikiran bahwa IPNU itu ada. Akan tetapi, jika keberadaan IPNU bersamanya perubahan tercipta atau berdampak, baru kita katakan bahwa IPNU itu benar-benar ada. bukan wujuduhu ka’adamihi atau laa ya muutu wa laa yahya.

Satu poin lagi terkait eksistensi. Penulis pernah menyimak dawuh KH. Bahaudin Nursalim (Gus Baha) dalam video yang diunggah di media masa, yang intinya begini, dokter ingin mendapat pasien dengan memasang plang. Orang tidak akan tahu bahwa dia dokter jika tanpa tanda atau dia tidak mengaku bahwa dirinya dokter. Gus Baha menganalogikan dokter sebagai kyai.

Zaman sekarang di mana kezholiman telah tampak dan merebak, dan orang-orang yang diselimuti kabut kebodohan bertindak. Maka hanya ada satu kata, Tolak!

Artinya seperti ini, seorang kyai atau alim tidak harus menjadi tawadu’ seutuhnya. Seorang kyai harus menampakkan kyainya. Bukan untuk sombong. Bukan untuk gaya-gayaan. Juga Bukan untuk pamer. Tetapi jika orang ingin berobat maka orang akan mencari ahli pengobatan yang kredibel. Orang bodoh ingin ngaji, ingin tobat, maka larinya kemana? Nah, maka poin pentingnya eksistensi itu harus tetap ada.

dari tulisan yang telah dipaparkan di atas. Dapat ditarik kesimpulan bahwa eksistensi dalam organisasi itu diperlukan. Namun eksistensi yang bagaimana? Tentunya eksistensi yang tidak mendahului esensi.

Dari Hakikat, fungsi dan tujuan IPNU yang kemudian melahirkan program sebagai organisasi eksistensi, maka pengejawentahan program tersebut harus memiliki esensi dan output yang lebih.

“esensi mendahului eksistensi” bukan “eksistensi mendahului esensi”

Salam Belajar, Berjuang, Bertaqwa.

Foto : Noval Habibi



Komentar

Postingan populer dari blog ini

HARLAH IPNU Ke-66

Harlah IPNU ke-66   "Harmoni Pelajar Indonesia, Satu Dalam Karya" Dalam rangka peringatan Harlah IPNU ke-66 yang jatuh pada 24 Februari 2020 mendatang, PAC IPNU dan IPPNU kecamatan Sliyeg mengadakan Workshop Relief Alumunium bersama Kang Miftahudin (Emik Street Limawatt) dari Lesbumi Kabupaten Cirebon yang dibingkai dengan acara "Kedakar-kedukur Karo Batur". Sejalan dengan tema harlah IPNU tahun ini, pada acara tersebut PAC IPNU-IPPNU Sliyeg mengangkat tema "Menggali Potensi Pelajar di Bidang Seni Rupa". Besar harapan kader-kader IPNU-IPPNU, khususnya di Sliyeg, mampu mengepakkan sayapnya bukan hanya pada intelektualitas, spiritualitas dan moralitas, tetapi juga pada nilai kesenian dan kebudayaan. Salam belajar, berjuang, bertaqwa ✊

Sekilas Tentang IPNU-IPPNU

Logo IPNU-IPPNU IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA (IPNU) Organisasi ini bernama Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang disingkat menjadi IPNU. Didirikan pada tanggal 20 Jumadil Akhir tahun 1373 H., bertepatan dengan 24 Februari 1954 M. di Semarang. Tokoh pendiri IPNU adalah M. Syufjan Cholil (Yogyakarta), H. Mustahal (Solo) dan Abdul Goni farida (Semarang) dengan Ketua Umum petama M. Tolchah Mansoer. Ikata Pelajar Nahdlatul Ulama beraqidah atau berasas Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan menganut salah satu madzhab empat, yaitu ; Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, IPNU berdasarkan pada Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat/kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Organisasi yang bersifat keterpelajaran, kekaderan, kemasyarakatan, kebangsaan dan keagamaan ini, befungsi ...

Konsep Misi Ala Shinobi Berbasis Kesadaran Kemasyarakatan

"Cita-cita daripada IPNU ialah membentuk manusia yang berilmu, tetapi bukan manusia calon kasta elite di dalam masyarakat. Tidak. Kita menginginkan masyarakat yang berilmu. Tetapi yang dekat dengan masyarakat," dawuh KH. Tolchah Mansoer (pendiri IPNU). Setiap organisasi mesti mempunyai harapan puncak. Meskipun harapan-harapan lain juga seringkali beriringan dengannya. Begitu juga IPNU, seperti yang dikatakan oleh KH. Tolchah Mansoer, bahwa harapan atau cita-cita IPNU adalah aktualisasi diri dalam hal intelektualitas, yang kemudian difaktualisasikan pada kehidupan sosial.  Berkenaan dengan Implementasi Daulat Pelajar, Daulat Rakyat, maka tulisan ini lebih dikerucutkan pada pengabdian IPNU di masyarakat. Telah dimaklumi bersama, bahwa IPNU merupakan salah satu organisasi kepemudaan di ranah pelajar. Tetapi, meski bergerak di ranah pelajar bukan berarti ia lepas dari tanggungjawab sebagai anggota masyarakat. Terlebih, ia memiliki kesadaran lebih sebagai pelajar yang telah dipupu...